RIAK DI LAUT BIRU
Episode 1
"Pagi di Dermaga"
Mentari baru saja menyembul dari balik cakrawala. Garis tipis jingga melukis langit timur, perlahan berubah keemasan seiring waktu berjalan. Ombak kecil memukul tiang-tiang kayu dermaga, mengirimkan bunyi berulang seperti napas yang tenang.
Di tepi desa nelayan Karang Luhur, seorang lelaki berusia pertengahan empat puluh berjalan pelan dengan langkah mantap. Namanya Samsudin.
Tubuhnya kurus, tulang pipinya menonjol, namun ada kekuatan yang terpahat dalam setiap gerakannya. Kulitnya legam, keras seperti kulit kayu, bekas terbakar matahari yang tak pernah berhenti menemani pekerjaannya sejak remaja.
Di tangannya, ia menggenggam sebuah termos berisi kopi hitam, pemberian istrinya, Rukmini.
“Bawa ini, Din. Jangan biarkan perut kosong melawan ombak,” pesan istrinya tadi pagi, dengan suara lembut namun penuh keteguhan seorang istri nelayan.
Rumah mereka sederhana, panggung kayu dengan dinding papan. Atap sengnya sudah berkarat, berderak jika angin terlalu kencang.
Namun di situlah cinta bersemayam: Rukmini yang sabar, Ayu—anak mereka satu-satunya—yang kini duduk di bangku SMA, rajin belajar di bawah cahaya lampu minyak ketika listrik desa padam.
Samsudin berhenti sejenak di dermaga. Matanya menyapu horizon, laut yang tak bertepi. “Kau tak pernah berubah, Laut,” gumamnya lirih, seakan berbicara dengan sahabat lama. “Yang berubah hanya kami, manusia, yang makin serakah mencari rezeki darimu.”
Tak lama, dua sosok mendekat. Romi, lebih muda dari Samsudin, energik namun keras kepala. Dan Jumadi, lelaki tambun yang murah senyum tapi sering kali pesimis. Mereka bertiga sudah seperti saudara, berbagi jaring, berbagi hasil, bahkan berbagi kesedihan.
“Din, mesin perahumu masih bisa hidup, kan?” tanya Romi sambil menyalakan rokok.
“Kalau tak bisa hidup, kita bertiga harus berenang, Rom,” jawab Samsudin, tersenyum pahit.
Jumadi tertawa pendek, tapi wajahnya segera berubah serius. “Aku dengar semalam, ada perahu yang pulang hampir kosong. Laut ini makin pelit.”
“Laut tak pernah pelit,” sahut Samsudin sambil menyalakan mesin. “Kita saja yang terlalu banyak meminta.”
Mesin tua itu menderu, batuk-batuk seperti orang tua. Tapi akhirnya hidup juga. Perahu bergerak meninggalkan dermaga, membelah riak laut pagi. Di kejauhan, matahari makin naik, mewarnai air dengan kilau keemasan.
Di tengah perjalanan, mereka bertiga duduk berjejer, memandang laut. Suasana hening, hanya suara mesin dan debur ombak yang terdengar. Romi memecah keheningan.
“Din, apa kau pernah berpikir untuk berhenti jadi nelayan?”
Samsudin menoleh sekilas. “Dan jadi apa?”
“Entahlah. Banyak orang pergi ke kota, kerja bangunan, kerja serabutan. Mungkin penghasilan lebih jelas.”
Samsudin diam. Angin laut berhembus, membuat rambutnya berantakan. “Aku lahir di laut, Rom. Ayahku meninggal di laut. Aku tak tahu hidup selain ini. Laut ini rumahku. Kalau aku pergi, aku kehilangan diriku.”
Jumadi mengangguk pelan, meski wajahnya muram. “Kau memang keras kepala, Din. Tapi mungkin kau benar. Kita cuma bisa bertahan dengan cara ini.”
Mereka lalu mulai melempar jaring ke laut. Jaring itu sudah penuh tambalan, namun tetap menjadi senjata utama mereka.
Waktu berjalan, matahari meninggi, keringat bercucuran. Saat jaring ditarik, hasilnya hanya beberapa ekor tongkol kecil, beberapa cumi, dan seekor kerapu yang lumayan besar.
Romi mengumpat pelan. “Sial. Tak cukup untuk menutup biaya solar.”
Samsudin hanya menarik napas panjang. “Kita bawa pulang saja. Lebih baik sedikit daripada tak ada sama sekali.”
Sore menjelang, mereka kembali ke dermaga. Perahu-perahu lain pun datang, sebagian dengan hasil yang sama menyedihkan. Di pelelangan, harga ikan ditekan rendah oleh para pengepul.
Setelah dipotong biaya solar, es, dan iuran, uang yang tersisa di tangan Samsudin tak sampai seratus ribu rupiah.
Matahari mulai tenggelam ketika Samsudin melangkah pulang. Di depan rumah, Rukmini sudah menunggu, dengan senyum yang ia paksakan agar tidak terlihat letih.
“Bagaimana, Din?” tanyanya pelan.
“Tak banyak. Tapi cukup untuk beli beras besok,” jawab Samsudin, menyerahkan uang lusuh itu.
Rukmini menerimanya, matanya berkaca-kaca tapi tetap tersenyum. “Tak apa. Selama kau pulang selamat, itu yang terpenting.”
Ayu keluar dari dalam rumah, membawa buku tulisnya. “Bapak capek ya? Aku sudah selesai PR. Mau Bapak lihat?”
Samsudin menatap putrinya, senyum lelah tergambar di wajahnya. “Nanti, Nak. Sekarang bapak ingin duduk sebentar.”
Malam itu, keluarga kecil itu makan seadanya: nasi hangat, sambal terasi, dan ikan asin. Namun mereka makan bersama, saling menyuapi tawa di tengah kerasnya hidup.
Di luar, suara ombak terus bergemuruh. Seakan mengingatkan, hidup sebagai nelayan tak pernah mudah. Tapi bagi Samsudin, itu bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah cara hidup.
BERSAMBUNG 👉 Episode 2
