RIAK DI LAUT BIRU
Episode 2
"Laut yang Tak Lagi Murah Hati"
Samsudin berjalan menuju dermaga dengan langkah berat. Semalam ia tidur gelisah, memikirkan uang yang semakin tipis. Ayu butuh biaya sekolah, Rukmini butuh belanja dapur. Semua itu menunggu di pundaknya.
Sesampainya di dermaga, Romi sudah duduk di perahunya sambil mengasah pisau kecil. “Pagi, Din,” sapanya.
“Pagi,” jawab Samsudin singkat.
Jumadi datang belakangan, membawa rokok kretek yang baunya menyengat. “Semalam aku dengar kabar, di perairan sebelah timur ada rombongan perahu yang pulang hampir kosong. Kita mau coba ke arah barat saja, bagaimana?”
Samsudin mengangguk. “Kita coba. Laut barat lebih dalam, mungkin lebih banyak ikan.”
Perahu mereka pun bergerak, meninggalkan garis pantai. Ombak hari itu lebih kasar dari biasanya, membuat perahu kecil bergoyang-goyang. Romi berusaha mengalihkan suasana dengan bicara.
“Din, kau sadar tak, sekarang makin jarang kita dapat ikan besar? Dulu ayahku bercerita, sekali jaring dilempar, tongkol bisa menumpuk sampai perahu hampir tenggelam.”
“Betul,” sahut Jumadi. “Tapi itu dulu, Rom. Sekarang kapal-kapal besar dari kota sudah meraup banyak. Kita ini hanya kebagian sisa.”
Samsudin menatap laut yang luas, matanya menerawang. “Laut tak bersalah. Yang salah manusia. Menangkap tanpa aturan, merusak terumbu karang, mengebom ikan. Laut ini sudah sakit.”
Mereka pun terdiam. Obrolan itu terasa pahit, tapi nyata.
Setelah beberapa jam, jaring mereka ditarik. Hasilnya tak lebih baik dari kemarin. Hanya beberapa ekor kecil yang bahkan tak layak dijual dengan harga tinggi. Romi membanting ember ke lantai perahu, wajahnya memerah.
“Setiap hari begini! Apa kita mau terus hidup dengan rezeki sekecil ini?!” bentaknya.
“Lalu mau apa?” sahut Samsudin dengan nada tenang.
“Mungkin aku akan ikut kapal besar milik Juragan Hasan. Mereka pakai pukat harimau. Sekali jalan, bisa bawa pulang jutaan!”
Samsudin menoleh tajam. “Kau tahu itu dilarang, Rom. Itu merusak laut. Kalau semua orang begitu, habislah ikan kita.”
“Larangan? Apa larangan bisa kasih makan anakku?” Romi menatap balik dengan mata berkilat.
Jumadi mencoba menengahi. “Sudahlah, kalian berdua. Kita ini cuma orang kecil. Kita melaut seadanya, hasilnya pun seadanya. Kalau mau ikut kapal besar, itu pilihanmu, Rom. Tapi risikonya juga besar.”
Hari itu mereka pulang dengan wajah suram. Di pelelangan ikan, harga makin ditekan. Tengkulak tersenyum licin saat menimbang hasil tangkapan nelayan kecil. Samsudin menerima beberapa lembar uang lusuh, jumlahnya bahkan lebih kecil dari kemarin.
Ketika tiba di rumah, Rukmini menyambut dengan wajah penuh tanya. Samsudin hanya menyerahkan uang tanpa kata. Rukmini menghitungnya, lalu menarik napas dalam.
“Tak cukup untuk bayar utang ke warung,” bisiknya.
“Aku tahu,” jawab Samsudin pelan.
“Din, sampai kapan kita begini?” Rukmini menatap suaminya, matanya berkaca-kaca.
Samsudin duduk, wajahnya letih. “Aku tak tahu, Min. Aku hanya tahu satu hal: aku harus terus ke laut. Selama aku bisa berdiri, aku tak akan berhenti.”
Ayu, yang sejak tadi duduk di pojok dengan buku catatan, menatap bapaknya dengan wajah serius. “Pak, jangan khawatir. Aku akan belajar sungguh-sungguh. Kalau nanti aku kuliah, aku ingin mencari cara agar laut kita bisa kembali banyak ikannya.”
Samsudin tersenyum kecil, menahan rasa haru. “Belajarlah, Nak. Itu satu-satunya hal yang bisa kau lakukan untuk masa depanmu. Jangan jadi seperti bapak, yang hanya tahu laut, tapi tak bisa menjaganya.”
Malam itu, Samsudin duduk sendirian di beranda rumah. Angin laut bertiup, membawa aroma asin yang menusuk. Ia menatap bintang di langit, hatinya penuh tanya.
Apakah ia harus bertahan dengan cara lama? Atau mengambil jalan berbahaya seperti Romi?
Apakah laut masih akan memberi kehidupan bagi mereka?
Gelombang terus datang, memukul tiang rumah panggung. Suara itu seperti jawaban samar: laut akan selalu ada, tapi manusia harus bijak memperlakukannya.
BERSAMBUNG 👉 Episode 3
